
BILA ENGKAU BUKAN BATU
Hari itu hatiku bersikeras
menatap gurun
menyibaknyibak pasir yang
terbentang
disekitar rumah tua berpagar
cahaya
Tiada sepotong bayangandiri
kutemukan disana
Mungkin segalanya telah
selesai
atau matahari telah jenuh
membagikan cahayanya
Angin berembus kencang
debu panas mengudara
menyapu wajahwajah putih
sarat muatan
tubuhku hanyut ke dalam
pusaran
Hatiku bertanyatanya :
- Benarkah diriku sebutir
elektron
atau planet bingung yang
mengorbit batu ?
Sementara irama gurun menamparnampar
telinga
dengan bisik, gumam dan
isakan
Dengungnya membuat lebah
bernyanyi
rindu gema dan cakrawala
sendiri
Aku ikut berdendang
Di luar sadar diriku menjelma
sebingkai lagu
Sumbang suaranya mirip desir
malam menjelang kemarau
nadanya menyayat tabir waktu
hingga terlempar ke ceruk
sebuah batu
Hitam legam
bagai benih kematian merindukan
terang
Jasadku larut
sukmaku hanyut
ditayang kematian ke pilar
biru
hingga detik paling menikam
belum kutemukan diriku yang
hilang
Tiba-tiba semuanya berakhir
dan segalanya menemukan
makna
ketika batu hitam itu berbicara:
- "Wahai Dungu!
Beri aku napas,
bila benar engkau bukan
batu!"
Mesjid Harom, September 1995.
ANTARA SHOFA DAN MARWA
siapa memanggil-manggil namamu
saat fajar mencemaskan perjalanan
katakan aku bersamanya dalam
kokok ayam jantan
ketika satwa bertaburan
dari segenap penjuru ruang
mengarungi ketakpastian
berbekal khayal
dan binar harapan
kemudian semua berkata
sejarah sedang menyusun
cerita
siapa resah menunggu purnanya
sebuah cerita
angin tak peduli engkau
ada atau tiada
reguk dalam-dalam kilat
bening melintas kaca
ruang dan waktu tak menjamin
keabadian makna
Makkatul Mukarromah, September 1995.
SKWADRON MALAIKAT
Di halaman Masjid Haram
selepas menunaikan shalat
Jum’at
kami terkepung sepasukan
gadis kecil
bermata bintang
Mereka berebut mencium tangan
seraya menuntut zakat perjalanan
Mulutku ternganga, hatiku
bertanyatanya
- Malaikat dari langit mana
mereka
seperti aku pernah mengenalnya
seribu atau sejuta tahun
yang lalu
ketika diriku masih padu
Mengapa mereka menghadangku
saat kedua tanganku terbelenggu
O, alangkah lembutnya wajah
mereka
hitam legam bagai boneka
pertala
Aduhai, bila mereka tersenyum
tiada nurani seputih giginya
Kalau saja bukan pendatang
sungguh bahagia bersama
kalian !
Tengah kami bercanda, pasukan
lain menyerbu
dari kakikakilima
Bagai dihadang setan jalanan
kami berlari tungganglanggang
Tanpa kenal putusasa mereka
memburu kami
sekuat tenaga
Kakikaki kecil yang lemah
Jiwajiwa mungil yang patah
tak kuasa menggapai kenyataan
mengejar sukmaku dengan
jeritan :
- "Ya Allah tunggu !
Dengarkan kami
Lihatlah keadaan kami "
Dan . . .
lepaslah jantungku dari
untaiannya
Dengan suara terputusputus
aku bertereak
ke angkasa :
- "Tolong !
Jangan panggil aku dengan
nama itu
Tahan cadarmu, hingga semua
sandiwara berlalu "
Makkah Al-Mukarromah,
September 1995.
SEBUAH ALBUM HARIAN
buat : Adam dan Hawa
bapa dan ibu !
di tempat kalian bertemu
setelah berabad berpisah
berdiri monumen megah
- Jabal Rahmah -
tugumu anggun bagai Dewa
Uzza
menaungi hamparan Arofa
tempat berhenti kafilah
zaman
dalam mencari rumah yang
aman
maafkan aku bapa !
di bawah tugumu yang syahdu
tiada sepotong doa kuucapkan
bukan karena lupa
atau bangga dengan diri
yang papa
tetapi karena hatiku sedang
tenggelam
di lautan yang pernah menelan
kalian
apa yang kini bisa kulakukan
hanya melengkapi album harian
ketika seorang cucumu
tiba-tiba datang menghampiriku
menggenggam hati di tangannya
buru-buru kusemayamkan di
dada
Jabal Rahmah, September 1995.
BAIT BAIT PUISI DI
JABAL UHUD
buat Syuhada Uhud
disini kalian terbaring sementara
waktu
di balik onggokan nisan-nisan
batu
jerit takbir, hempasan tubuh
dan napasmu
bagai sangkur menyayat ketenanganku
kekalahan mengukir tahta
para syuhada
Sayyidina Hamzah paman Rasulullah
gilang gemilang terbujur
di palagan
gugur mengikis dendam sahara
jantungnya lebih putih dari
gigi pengunyahnya
derapnya lebih gempita dari
Baratayuda
hingga nanar mata Sang Nabi
dibuatnya
salam untukmu Syuhada !
kulihat teja biru di kuburmu
kemenangan Badar hanyalah
debumu
dan nisan-nisan beku itu
bait-bait puisi kebenaranmu
Jabal Uhud, September 1995.
DI MESJID NABAWI
kulepas puji cahaya
di bawah kubah hijau
saat matahari nanar dalam
safar
kau tangkap ubun-ubunku
di lantai pualam
sujud adalah terbang
di ruang tanpa bintang
bulan dan matahari zaman
ketika awal dan akhir turun
di lembar cinta Sang Mabrur
Madinatul Munawwaroh, September 1995.
DI SHOF MASJID MADINAH *)
di shof masjid Madinah
saat hati tenggelam dalam
i’tikaf
dari balik punggungku terlena
seorang Habsyi berkata :
- hemat enersi dan jaga
stamina ! -
seketika terbentang di depan
mata
sajadah seluas cakrawala
warnanya merah langit senja
tanpa ornamen bunga-bunga
- bersujudlah ! -
suara dari balik kubah
- semestamu telah rindu
bercadar kafan kelabu -
segera kupetik Mawar Taman
Azali
kutabur di altar hari
aroma samar mengusap ruang
menganyam sujud panjang
Madinah, September 1995.
*) buat penderita AIDS
dimana saja.
DI ALTAR QUBA
di altarmu yang syahdu
aku berdiri termangu
sejuknya udara
temaramnya cuaca
di bawah kubahmu yang baka
membujur sujud panjang
musyafir zaman
dalam basah dan gersang
quba !
di balik atapmu
sirna dambaku
di atas lantaimu
abadi langkahku
demi tiang yang ditinggikan
demi puji yang dilepaskan
aku berdiri, ruku’ dan sujud
menggenggam kebebasan
mencium kekekalan
Madinah, September 1995.
J E R A S H *)
Jerash !
di balik tiang-tiangmu yang
meranggas
terbayang wajah kota
yang mengkemas cakrawala
Jerash !
berapa lama namamu dimanja
gelak-tawa, pesta gila,
tuak dan paha ?
di arenamu kudengar jeritan
darah meleleh di setiap
pilar
aktor-aktormu yang berambut
panjang
menunggu sendu di pintu
gerbang
Jerash !
berapa lama wajahmu merias
angkasa ?
puing-puingmu kini merintih
nista
mengadu duka
menuntut semua
yang menjadikan Roma
kiblat budaya
Jerash !
alangkah malang nasibmu
!
Jerash, September 1995.
*) reruntuhan kota Roma.
KOTA MAWAR MERAH *)
kakiku melangkah pelan
di lorong sempit yang lengang
antara bukit-bukit batu
yang terjal
diri bagai sebutir kerikil
di bawah bayangan raksasa
bugil
yang tegar mencekeram langit
memagar cakrawala Petra
hanya tangan-tangan purba
yang kuasa memahat gunung
jadi istana
di puncaknya anggun berdiri
Dewa Uzza
pelindung Kota Mawar Merah
dalam pesona jiwaku berkata:
- wahai Dewa Dewa Sahara
kemana kalian mengembara
bersama pengikutmu yang
perkasa?
- mengapa lengang kotamu
yang dipangku gunung-gunung
batu
saat aku menjengukmu?
sunyi bagai mimpi
hanya angin gurun yang bernyanyi
di istana yang tanpa penghuni
ajaib!
di senja terakhir
dalam safari di padang pasir
seorang anak kecil menghadang
jalan
seraya menyampaikan salam:
- ‘sini, sini !’, yang tak
pernah dapat kupahami
kemudian lenyap ke balik
sepi
Petra, September 1995.
*) nama kota yang dibangun
dari pahatan gunung
oleh bangsa Nabatean
100 tahun sebelum Masehi.
