![]()
SUFI HEALING
Oleh: Muhammad
Zuhri
Ceramah ini disampaikan dalam acara seminar
"PENYEMBUHAN SPIRITUAL DAN KEDOKTERAN MODERN"
di Hotel Mandarin Jakarta pada tanggal 30 Juli 1999
KLASIFIKASI KAUSALITAS
Bagi kalangan Sufi penyembuhan merupakan salah satu pengejawantahan diri dalam rangka melaksanakan rahmatan lil alamin. Dalam menyalurkan daya penyembuhan, mereka tidak terikat oleh sistem atau metodologi yang sama. Karena masalah teknis mereka dapatkan lewat pengalaman unik mereka masing-masing di dalam proses penemuan diri. Bahkan sering terjadi di luar rencana dan kesengajaan mereka.
Menurut para Sufi, demikian juga kebanyakan orang beriman, daya-penyembuhan itu milik Allah. Ia (healing) diturunkan ke dunia melalui lorong sebab (kausalitas) yang bermacam-macam. Diantaranya adalah Kausalitas Supranatural yang dikaruniakan Tuhan bagi kaum Sufi.
Selengkapnya klasifikasi kausalitas sebagai berikut:
KAUSALITAS![]() (1) Natural ___(2) Supranatural ![]() (1) Logis____(2) Magis ![]() (1) Vertikal___(2) Horisontal |
Jelasnya kausalitas yang telah kita ketahui ada dua, yaitu: Kausalitas Supranatural dan Kausalitas Natural. Kausalitas Natural juga terdiri dari dua macam, yaitu: Kausalitas Magis dan Kausalitas Logis. Dan Kausalitas Logis terdiri dari dua macam pula, yaitu: Kausalitas Horisontal dan Kausalitas Vertikal.
Jika Kausalitas Supranatural difasilitaskan buat para Sufi, Kausalitas Natural diamanatkan buat para ahli yang lain. Misalnya Kausalitas Magis bagi para penyihir, paranormal, dukun, dan sebagainya. Kausalitas Logis Horisontal diamanatkan kepada para dokter, apoteker, akupunktur, dan tabib-tabib tradisional. Sedangkan Kausalitas Logis Vertikal dipercayakan kepada para psikiater atau dokter jiwa.
KAUSALITAS SUPRANATURAL
Tidak sebagaimana diduga oleh kebanyakan orang bahwa penguasaan Kausalitas Supranatural bisa dilatih lewat seperangkat riadloh (exercise) seperti penguasaan Kausalitas Magis, atau dengan sebuah teori lewat eksperimen-eksperimen pada objek natur seperti penguasaan Kausalitas Logis, karena fasilitas tersebut merupakan karunia Ilahi kepada hamba-Nya yang telah jauh menempuh proses pengabdian dengan segala resiko eksistensialnya. Proses pengabdian kepada Yang Maha Sempurna memiliki nilai ganda ke luar maupun ke dalam, yang mengisyaratkan telah berlangsungnya transformasi kesadaran lewat momen-momen transendensi dan imanensi selama dalam proses.
TRANSFORMASI KESADARAN LEWAT TRANSENDENSI DAN IMANENSI
Untuk masuk ke dalam mekanisme tersebut, kita membutuhkan empat tahap transformasi kesadaran dengan berteladan pada uswah yang terpuji yaitu Rasulullah SAW. Dua tahap yang pertama bersifat Eksistensial dan dua tahap berikutnya bersifat Esensial.
Kesimpulannya, sifat-sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah tidak hanya wajib bagi Rasul melainkan sifat-sifat yang harus diteladani oleh pengikutnya.
Ringkasan proses transformasi diri lewat Transendensi dan Imanensi sebagai berikut:
Dimensi Eksistensial:
Dimensi Esensial:
Healing bagi para Sufi bukan ilmu, skill, power diri, ataupun tujuan, melainkan melaksanakan Amr Allah.
Perjuangan Sufi di dalam menghayati revolusi diri hingga mencapai maqom Wahdah (Unity) ditanggapi oleh Allah dengan mengaruniakan kepadanya sebuah mekanisme yang lain (Kausalitas Supranatural), yang dengannya ia dapat menggapai maqom Jamiyah (Universality), sehingga keberadaannya di dunia tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, melainkan berguna bagi semua.
Risalah singkat ini merupakan bagian dari konsep kesufian yang saya tegakkan di atas landasan syariat Islam yang tak dapat digoyahkan, namun dapat digali sedalam-dalamnya tanpa merusak sendi-sendinya. Karena bagi saya tasawuf adalah Islam itu sendiri, dalam dimensinya yang tinggi.
Jakarta, 28 Juli 1999